Potensi Keunikan Budaya Punan Hovongan di Timur Kawasan TNBK

12 11 2010

Oleh : Syarif M. Ridwan

Mungkin buat sebagian orang tidak pernah terpikirkan bahwa di perhuluan Sungai Kapuas yang kondisi alamnya masih berhutan lebat dan aksesibilitas relatif sulit dijangkau terdapat pemukiman kelompok masyarakat disana. Desa Tanjung Lokang yang merupakan perkampungan terakhir di perhuluan Sungai Bungan, anak cabang sungai Kapuas ini dihuni oleh masyarakat Dayak Sub Etnik Punan Hovongan. Mereka telah bermukim di wilayah tersebut jauh sebelum masa penjajahan di Indonesia. Dahulunya mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di dalam gua-gua dan di hutan.

Berbagai kebiasaan, cara hidup, aturan-aturan serta seni dan kerajinan merupakan bagian dari tatanan sosial dalam suatu kelompok etnis. Keunikan tersebut merupakan aset yang tidak ternilai bagi daerah, dan dalam skala besarnya lagi adalah Indonesia. Terlebih lagi bahwa pemukiman ini terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, yang semakin menambah keunikan dan kekayaan potensi alam dan budaya di dalamnya.

Keberadaan Taman Nasional Betung Kerihun dan masyarakat yang bermukim di sekitarnya mempunyai pertalian yang sangat erat. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat lokal sangat tergantung kepada hutan dan sungai di sekitarnya. Namun pengetahuan lokal yang mereka miliki secara turun temurun mengajari untuk santun terhadap alam, memanfaatkan hanya sesuai kebutuhan dan menghindari kerusakan. Mereka juga akan sulit untuk bertahan hidup jika kondisi alam di sekitar mereka menjadi rusak dan cenderung mendatangkan bencana. Dengan tetap menjaga kelestarian budaya masyarakat Punan Hovongan tentunya akan dikuti dengan lestarinya Taman Nasional Betung Kerihun. Untuk menunjang hal tersebut juga perlu dicarikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat sekitar agar tidak sepenuhnya tergantung kepada alam.

Kekayaan Keunikan TNBK serta keragaman budaya masyarakat yang bermukim di sekitarnya sangat berpotensi dikembangkan sebagai paket  Ekowisata. Pariwisata berkelanjutan ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan alternatif mata pencaharian masyarakat sekitar tanpa menggadaikan alam dan mengubah kebudayaan yang ada.

Etnik Dayak Punan Hovongan yang tinggal di wilayah timur kawasan TNBK ini memiliki budaya yang cukup unik dan menarik apabila dikemas menjadi paket wisata. Beberapa atraksi budaya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai paket wisata diantaranya adalah :

1.         Pengetahuan lokal dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari

a.       Berladang

Berladang merupakan  aktifitas  utama  bagi  masyarakat sekitar, dimana  kegiatan  ini  paling  banyak  menyita  waktu. Dalam satu  tahun kegiatan  berladang ini  memakan  waktu  6-8 bulan. Masyarakat mengatur  sendiri daerah untuk  berladang, hutan  cadangan dan mengolah  sumber  daya  alam  yang  memiliki  nilai  konservasi  dan  aspek  kelestarian. Aturan  kepemilikan ladang pun  diatur  secara  turun-temurun.

Biasanya sebelum berladang dan sesudah panen dilakukan upacara-upacara tertentu yang telah berlangsung secara turun menurun. Selain itu terdapat juga kearifan tradisional yang masih terjaga yaitu menyimpan benih padi berkualitas baik sehingga terjamin keberlangsungan genetik padi lokal yang ada.

b.      Berburu dan Mencari Ikan

Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, masyarakat biasanya berburu babi, rusa, kancil, kijang dan mencari ikan. Selain diperjualbelikan, hasil buruan juga biasanya untuk sumbangan ke acara pesta perkawinan atau acara lainnya yang dilaksanakan di kampung.  Lokasi berburu masyarakat adalah di sepan dan di hutan yang banyak pohon buah-buahan. Selain itu berburu bisa juga dilakukan di bekas ladang yang masih baru. Biasanya para pemburu melihat tanda-tanda ada binatang buruan dari bekas jejak kaki di tanah. Senjata yang dipergunakan untuk berburu seperti senapan rakitan, sumpit, tombak dan dibantu anjing untuk memudahkan menemukan binatang buruan.

Aktivitas mencari ikan biasanya dilakukan di lubuk sungai, muara dan bagian perhuluan sungai. Aktifitas mencari ikan ini mereka lakukan hampir setiap hari atau di saat mereka sedang membutuhkan ikan untuk lauk pauk. Peralatan yang biasa digunakan untuk mencari ikan seperti pancing, jala, pukat, dll.

c.       Membuat Perahu

Alat transportasi satu-satunya yang terdapat di Tanjung Lokang adalah transportasi sungai seperti sampan atau perahu bermesin. Untuk berpergian ke suatu tempat yang relatif jauh, masyarakat sekitar tidak lepas dari alat transportasi tersebut. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki perahu bahkan ada yang lebih dari satu.

Pengetahuan tentang membuat perahu sudah turun-temurun dimiliki masyarakat Tanjung Lokang. Mengenai bentuknya juga cukup unik dan memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan di tempat lain. Untuk daerah perhuluan khususnya di Tanjung Lokang bentuk perahu yang tepat adalah tidak terlalu lebar dan “langkannya” dibuat sedikit melengkung agar perahu tersebut dapat menyesuaikan dengan ombak riam yang besar. Untuk penentuan bentuk dibiasanya berdasarkan keinginan yang membuat atau yang memesan. Ini juga disesuaikan dengan kepentingan dibuatnya perahu tersebut atau tergantung besarnya mesin yang dipasang pada perahu.

Adalah pemandangan biasa apabila di setiap rumah terdapat langkan perahu yang disimpan di bawah rumah atau di depan rumah mereka. Di beberapa tempat juga bisa dijumpai perahu yang sedang dikerjakan pemiliknya. Yang menarik proses pembuatan perahu tersebut masih dilakukan secara tradisional dengan peralatan seadanya. Dalam beberapa kegiatan seperti pembuatan langkan perahu dilakukan secara bergotong royong.

d.      Membuat parang/ mandau

Pembuatan mandau atau parang di Tanjung Lokang masih dikerjakan secara tradisional. Dalam prosesnya, besi yang akan dijadikan mandau atau parang tersebut dibakar sampai menjadi merah selama 5 sampai 7 menit. Sesudah menjadi bara besi baru dipotong sesuai bentuk yang dinginkan dan kemudian ditempa dengan menggunakan pemukul besi. Sesudah terbentuk terlebih dahulu dikikir untuk kemudian dibakar lagi di atas api. Setelah membara di sepuh, yaitu bagian mata parang atau mandau yang tajam dimasukan ke dalam air. Bisa juga disepuh dengan memasukan ke dalam tanah yang dibasahi dengan air. Sebelum diasah dicoba terlebih dahulu dengan memukulkan besi tersebut ke besi lain. Apabila dapat membuat cacat besi tersebut berarti hasil sepuhan tadi bagus. Akhir dari proses ini adalah dengan mengasah mata parang agar menjadi tajam dan siap digunakan.

e.       Mencari hasil Hutan

Kehidupan masyarakat dayak Tanjung Lokang tidak terlepas dari hutan di sekitarnya. Dari hutan mereka mengumpulkan hasil hutan yang akan mereka pergunakan sehari-hari seperti kayu bangunan, rotan, kayu bakar, damar, daun pandan, gaharu, tanaman obat-obatan, dll. Biasanya hasil hutan tersebut mereka jadikan peralatan kerja atau rumah tangga dan ada juga untuk dikonsumsi.

Yang unik dari aktifitas tersebut adalah hasil hutan yang mereka ambil sangat terbatas untuk keperluan sendiri dan tidak bersifat komersil kecuali untuk gubal gaharu yang biasanya mereka jual kepada penadahnya. Namun untuk pencarian gubal gaharu ini sangat jarang mereka lakukan karena memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama. Biasanya yang banyak mencari gubal gaharu tersebut adalah orang luar Tanjung Lokang seperti dari Putussibau dan sekitarnya.

f.       Menumbuk padi

Menumbuk padi dengan menggunakan lesung adalah aktifitas yang sering dilakukan oleh kaum ibu-ibu hampir setiap hari. Dengan menggunakan alu dan lesung padi ditumbuk dengan irama yang beraturan sehingga menimbulkan suara yang menarik. Tanpa berhenti orang yang menumbuk ini mengeluarkan beras yang sudah ditumbuk dari lubang lesung. Atraksi yang biasa bagi masyarakat lokal ini terasa sangat menarik dan unik untuk diamati bagi wisatawan. Bahkan biasanya mereka akan tertarik mencoba menumbuk padi tersebut. Suatu potensi yang dapat dikemas menjadi suatu paket atraksi wisata.

Jumlah orang yang menumbuk padi biasanya bervariasi, antara 1 sampai dengan 6 orang tergantung kepada jumlah lubang lesung. Apabila lubangnya 1, 1-2 orang yang menumbuk padi. Jika lubangnya 2, 2-4 orang yang ikut menumbuk padi. Jika lubangnya 3 sampai 6 orang yang menumbuk padi. Namun sekarang masyarakat lebih beralih kepada cara modern yaitu mempergunakan mesin. Hal ini dirasakan lebih praktis dan hasilnya lebih banyak. Tetapi jika minyak mulai langka dan mahal di Tanjung Lokang, masyarakat dengan sendirinya akan kembali ke cara tradisional.

2.         Atraksi seni dan tari-tarian

Sama dengan sub etnik Dayak lainnya, Dayak Punan Hovongan di Tanjung Lokang juga memiliki keunikan seni dan tari-tarian yang unik. Pada awalnya atraksi seni dan tari-tarian ini hanya dilakukan pada acara-acara adat tertentu seperti penyambutan tamu, tarian perang, tarian burung dan lainnya.

Yang menarik bentuk tarian serta makna yang terkandung di dalam tari-tarian tersebut terinspirasi dari alam di sekitar mereka. Tarian “Leluvak”, misalnya, yang dalam bahasa Punan artinya gelombang, diciptakan dari pengalaman sehari-hari mereka yang ketika sedang berperahu pasti melewati riam yang bergelombang. Ada juga tarian yang diberi nama “Jut Ubing”. Ubing adalah nama burung, dan kehadiran burung tersebut ada musimnya yaitu pada musim kemarau tepatnya pada akhir bulan Agustus samapai pertengahan bulan September setiap tahunnya. Segerombolan burung tersebut datang dan mereka turun di karangan dan pasir yang terhampar di sepanjang pantai sungai Bungan, seolah mereka berbaris memanjang sambil berjalan perlahan-lahan sambil mencari sesuatu atau makanan mereka. Burung ubing tersebut apabila datang menandakan musim untuk menugal telah datang.

Selain itu ada juga tarian “penyambutan” yang dikhususkan untuk menyambut tamu-tamu penting. Sebagai bagian tarian penyambutan ini juga ditampilkan tarian “Suguhan Kopi” yang sengaja diciptakan secara khusus untung menghidangkan kopi kepada para tamu tersebut.

Untuk mengapresiasikan perasaan senang masyarakat Punan Hovongan juga menunjukannya dalam atraksi Tarian Gembira, atau dalan bahasa  punannya “Hajo”. Tarian ini berawal dari suatu kegembiraan dan rasa senang hati yag luar biasa sehingga tidak terasa kita menyaksikan sesuatu yang sangat mengembirakan menari, melompat dan sebagainya. Sebagai ungkapan dari rasa gembira tersebut, maka terciptalah tarian gembira ini (karang Hajo’). Sesuai dengan daya pesonanya sudah tentu menarik perhatian setiap mata yang memandangnya.

Serupa dengan sub etnik Dayak lainnya, masyarakat Tanjung Lokang juga memiliki tarian Tarian Perang. Tarian perang dalam bahasa punan hovongan “Karang Betacap” terlahir dari adat zaman dahulu pada waktu jaman “ngeo” (Ngayau) di mana sesorang dianggap dewasa apabila dapat membunuh lawannya. Tarian ini sebagai tanda kemenangan setelah mereka berperang dari kampung lain. Tarian ini menggambarkan ciri khas cara berperang atau melawan musuh. Dengan memakai cawat dari kulit binatang (beruang, harimau akar) 2 penari pria yang masing-masing membawa mandau dan perisai memamerkan atraksi seperti orang yang sedang berperang. Sesekali mereka saling beradu mandau sambil meneriakan pekikan. Tarian perang ini sangat jarang dimainkan kecuali untuk acara tertentu atau ada permintaan khusus.

Atraksi tarian lain yang unik dan sering dimainkan di lokasi ladangadalah Tari “Kangkep”. Keunikan tarian ini adalah menggunakan alu dan lesung yang dimainkan oleh 2 orang penari dan 2 orang pemain alu lesung. Tarian yang menggunakan kaki ini menjadi terasa menarik dan cukup menghibur dengan gerakan penarinya yang menirukan gerakan seekor monyet.

Di Tanjung Lokang telah terbentuk suatu sanggar seni yang diberi nama “Tali Lunai“. Tali Lunai adalah Orang asli Dayak Punan yang bermukim di Lovu Hatap, bukit yang terletak di sebelah Diang Kaung. Tali Lunai ini adalah seorang sakti yang mempunyai sape yang terkenal sangat nyaring bunyinya. Biasanya pada saat dia memainkan sapenya dapat terdengar oleh orang yang tinggal di bukit Loing sehingga merekapun ikut bernari mendegarkan suara sape tersebut. Oleh sebab itulah sanggar tersebut dinamakan Tali Lunai.

Sanggar Tali Lunai ini dirikan pada tahun 2000 dengan anggotanya berjumlah sekitar dua puluh orang yang terdiri dari pengurus, pelatih dan anggotanya. Sampai sekarang sanggar ini masih aktif, namun untuk operasionalnya masih perlu mendapatkan perhatian dan pembinaan terutama peralatan dan pengemasan tarian tersebut sehingga menjadi lebih menarik lagi.

Berbicara soal prestasi, Sanggar Tali Lunai walaupun berada di daerah perhuluan yang relatif sulit dijangkau tidak kalah sama sanggar lain yang ada di Kapuas Hulu. Sanggar Tali Lunai ini pernah mendapat juara 1 Lomba Tarian Kreasi Budaya Dayak pada tahun 2000 di Putussibau pada saat Festival Budaya Kapuas Hulu tahun 2000.

3.         Kerajinan tangan

Di saat waktu senggang masyarakat Tanjung Lokang terutama kaum ibu-ibu meluangkan waktunya untuk membuat kerajinan tangan dari daun pandan, rotan maupun dari manik-manik. Berbagai kerajinan tangan seperti tikar rotan dan pandan, keranjang rotan, sarung mandau dari manik-manik, dan masih banyak lagi mereka buat hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Jika dilihat dari bentuk dan motif kerajinan tangan tersebut sangat menarik dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi cendera mata/ souvenir bagi wisatawan yang sering berkunjung ke Tanjung Lokang. Disamping itu proses pengerjaannya dapat menjadi atraksi yang menarik perhatian wisatawan tersebut.

Melihat dari paparan di atas, sungguh masyarakat Dayak Punan Hovongan memiliki potensi budaya yang kaya dan beragam. Ini dapat menjadikan nilai tambah dalam mendukung pengembangan ekowisata di TNBK. Potensi alam dan budaya ini menjadi satu kesatuan yang saling mendukung guna dikembangkan menjadi paket dan atraksi ekowisata. Pengembangan wisata di wilayah ini khususnya di timur kawasan TNBK seharusnya lebih diintensifkan agar tercapai tujuan konservasi terhadap alam sekaligus budaya dapat terwujud.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: