Pengelolaan Kawasan Konservasi Cukupkah Hanya Pariwisata Alam?

12 11 2010


Oleh : Ari Yuwono, S.Hut, M.Si

 

Keberhasilan suatu program yang dilaksanakan instansi teknis sangat dipengaruhi oleh seberapa besar penerimaan masyarakat sekitar akan program tersebut. Tidak jarang persepsi dan image masyarakat terhadap instansi atau institusi tertentu memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Sebagai misal adalah PHKA yang membawahi dua unit pelaksana teknis yaitu Balai (Besar) Taman Nasional dan Konservasi Sumber Daya Alam. Dua UPT teknis ini utamanya Balai (Besar) Taman Nasional menjadi kurang popular bahkan tidak jarang kehadirannya mendapatkan  resistensi dari masyarkar sekitar.

Hal ini tidak lain karena tupoksinya yang membentengi kelestarian sumber daya alam dan ekosistem. Konsekuensi tupoksi ini menggiring pada kebiasaan menggunakan kata-kata seperti “dilarang, jangan, tidak boleh” dan lain-lain dll yang sifatnya represif, pelit, membatasi dan membawa kesan bermusuhan. Berbeda dengan instansi lainnya yang memiliki program dengan kata-kata seperti “pembagian”, “bantuan” baik itu berupa bibit, infrastruktur dan lainnya terasa lebih bersahabat dan tentu masyarakat akan welcome terhadap keberadaan lembaganya dan kehadiran personilnya.

Saatnya PHKA melakukan pendekatan lain sehingga keberadaan UPT di lapangan lebih diterima masyarakat. Rumus phka 3p yang masih bertumpu pada perlindungan dan pengamana hutan belum berhasil membawa pesan bahwa konservasi for welfare. Padahal 3 P apabila disenyawakan dengan baik maka conservation for welfare adalah keniscayaan yang tidak semu. Pada tataran teori memang tampak begitu mudah. Namun pepatah no body perfect, no consept perfect; memberikan gaambaran dan kesan bahwa 3P sulit dilaksanakan secara sempurna secara paralel.

Mencermati berbagai data dan fakta beserta argumentasi yg menyertainya, rumus 3P ada baiknya disederhanakan. Awalnya C=3P; 3P adalah fungsi-fungsi perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. C adalah konservasi. Fungsi 3P disederhanakan menjadi 1P saja yaitu fungsi pemanfaatan. Dan fungsi pemanfaatan tersebut difokuskan pada pariwisata. Sehingga rumusnya menjadi C=T=W ; konservasi adalah tourisme dan tourisme adalah agen kesejahteraan (agent of welfare).

Mengapa fungsi 3P (cukup) menjadi PARIWISATA?

Mari kita lihat mengapa pariwisata dapat mewakili fungsi 3P yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.

Pariwisata Sebagai Fungsi Perlindungan dan Pengamanan

Taman Nasional wajib fardhu ain mengembangkan pariwisata alamnya. Beberapa istilah yang lebih terkini dengan mempertimbangkan aspek ekologi, soial-budaya dan ekonomi dikenal dengan beberapa istilah seperti pariwisata hijau (green tourisme), ekotourisme, ekowisata dan lain-lain. Ketika pariwisata telah berjalan dengan semestinya dalam artian ada kunjungan kontinu para wisatawan secara periodik, secara tidak langsung hal tersebut merupakan upaya perlindunagn dan pengamanan.

Coba kita bayangkan, frekuensi melakukan kegiatan patroli ataupun kegiatan pengamanan lainnya dapat dihitung dengan jari karena pertimbangan anggaran yang terbatas. Marilah kita bandingkan jika pariwisata telah berkembang dan  wisatawan yang berkunjung telah secara kontinyu ke dalam kawasan maka frekuensi kunjungan wisatawan yang kontinyu tersebut dapat berfungsi dan berperan sebagai operasi pengamanan atau patroli.

Semakin banyak dan sering wisatawan yang berkunjung ke kawasan, semakin mempersempit ruang bagi pelaku tindak illegal di kawasan. Banyaknya kunjungan wisatawan juga akan menyadarkan masyarakat sekitar akan arti pentingnya hutan yang utuh, ekosistem yang alami, flora-fauna yang berkembang di habitat alalaminya. Karena faktor-faktor itulah wisatawan bersedia berkunjung dan membrikan banyak penghasilan bagi mereka. Hal ini membuktikan bahwa pariwisata dapat berperan penting sebagai fungsi perlindungan dan pengamanan kawasan.

Pariwisata Sebagai Fungsi Pelestarian/ Pengawetan

Pelestarian atau pengawetan diantaranya dapat dilakukan dengan beberapa kegiatan seperti konservasi eksitu maupun konservasi insitu. Pelestarian atau pengawetan pada sebagian (besar) taman nasional belum efektif dan optimal dilaksanakan hingga mencapai tingkatan  outcome (manfaat jangka menengah hingga jangka panjang). Kegiatan pariwisata yang telah berjalan dengan baik, dapat mendukung dengan efektif fungsi pengawetan ini. Conservation fund dan Adops programs di antara contohnya. Conservation  fund yang diberikan secara sukarela atau voluntary oleh wisatawan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap konservasi dapat digunakan untuk upaya-upaya pelestarian. Adops programs yang memungkinkan wisatawan mengadopsi jenis atau spesies langka baik flora mapun fauna. Wisatawan akan mengucurkan dana dengan jumlah tertentu sebagai biaya untuk mengkonservasi jenis-jenis langka yang telah dipilih dalam program adopsi yang disepakati.

Pariwisata Sebagai Fungsi Pemberdaya Masyarakat (Tool Poverty Aleviation)

Pariwisata baik masih sebagai sekedar aktivitas maupun pariwisata sebagai industri memiliki multiplier effect atau efek domino yang dapat menggerakkan banyak sektor usaha. Kondisi yang demikian berpeluang memberikan banyak peluang bisnis atau usaha dan menyerap tenaga kerja. Pariwisata dalam kategory sebagai industri mampu menggerakkan (baca : memberikan keuntungan) semua moda transportasi (pesawat, kapal/feri, bus/taxi hingga moda transportasi lokal). Pariwisata juga menghidupkan hotel-hotel, penginapan-penginapan, rumah makan-rumah makan, home-home industry handicraft dan souvenir lainnya. Dari gambaran sekilas di atas dapat dibayangkan berapa banyak tenaga kerja yang terserap akibat efek dongkrak pariwisata. Belum lagi negara berpeluang mengeruk devisa, pajak dan PNBP dari kunjungan wisatawan.

Hal senada berlaku jika pariwisata dikembangkan di kawasan konservasi. Ketika pariwisata yang dipilih dikembangkan adalah ekowisata yang memperhatikan kelestarian atau keberlanjutan aspek ekologi, sosial-budaya dan ekonomi masyarakat maka pariwisata secara tidak langsung mendorong program pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan.

Dengan berkembangnya ekowisata, rute benefitnya banyak yang akan tertinggal di masyarakat sekitar yang mayoritas masih hidup dalam kemiskinan. Artinya masyarakat mendapatkan manfaat lebih banyak dari keuntungaan akibat dampak kegiatan wisatawan di kawasan. Peluang usaha dan kesempatan mendapatkan pekerjaan dengan berkembangnya pariwisata juga semakin banyak dan beragam. Pariwisata yang demikian sering disebut juga tourisme pro poor.

Kita lihat apa yang dapat diberikan pariwisata dalam konteks tourisme pro poor, tourisme is tool poverty alleviation pada masyaraakat sekitar kawasan. Adalah manfaat finansial berupa peluang usaha dan pekerjaan yang memberikan penghasilan pada individu maupun kelompok dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan. Masyarakat mendapat benefit dari keberadaaan homestay, transportasi lokal, souvenir, food and beverages serta adat budaya lokal yang disajikan. Manfaat yang diberikan pariwisata lainnya adalah berupa peningkatan ketersediaan prasarana dan sarana yang dibangun untuk pariwisata yang dapat digunakan oleh masyarakat. Manfaat berikutnya adalah manfaat sosial (pengembangan pola pikir dan kelembagaan di masyarakat serta kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan) serta manfaat budaya berupa revitalisasi ragam budaya lokal.

Dengan beberapa manfaat dengan pengembangan pariwisata (ekowisata) seperti diurai di atas, pariwisata merupakan instrumen untuk mengurangi kemiskinan (poverty alleviation) tidak hanya miskin dari sisi ekonomi, tapi juga dari sisi pola pikir, wawasan, pendidikan dan kemiskinan aksesibilitas dan infrastruktur serta kemiskinan lainnya. Yang demikian selaras dan mendukung dengan apa yang dicanangkan PBB yaitu Millenium Development Goals (MDGs) yang salah satunya programnya dalah pengurangan kemiskinan.

Kemiskinan banyak terjadi di negara berkembang. Di negara berkembang kantong-kantong kemiskinan berada di pedalaman-pedalaman termasuk sekitar kawasan konservasi. Kawasan konservasi aman dan lestari jika masyarakat sekitar kawasan mampu menapak (walau perlahan) menju kesejahertaan. kesejahetaraan akan tercapai jika masarakat diberdaaaykan dengan cara yang efektif dan efisien. Cara (yang diyakini) itu bernama Pariwisata; Ekowisata; Ekotourisme.***


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: