Menikmati Alam, Budaya dan Petualangan di Taman Nasional Betung Kerihun

12 11 2010

Oleh : Arief Khristanto

 

Trend pariwisata yang saat ini condong kepada ekowisata menuntut sebuah destinasi untuk memberikan sebuah nilai tambah (added value) bagi para pengunjungnya. Para ekoturist saat ini juga mengejar sebuah pengalaman baru dari aktivitas wisata yang dilakukannya bukan hanya sekedar media pelepas lelah (refreshing). Salah satu tipe destinasi ekowisata adalah taman nasional. Keunikan, kekhasan bahkan kemisteriusan sebuah taman nasional menjadi nilai daya tarik tersendiri bagi beberapa ekoturist.

Taman Nasional Betung Kerihun mewakili sebuah destinasi berupa ekosistem hutan hujan tropis borneo yang masih alami, berikut dengan kekayaan budaya dari masyarakat lokal yang mayoritas adalah suku dayak. Delapan tipe ekosistem hutan hujan tropis yang membentang dalam luasan 800.000 hektar merupakan sebuah destinasi wisata yang sangat menakjubkan. TNBK menyediakan sebuah fenomena alam, budaya dan surga petualangan bagi para ekoturist. Keanekaragaman atraksi wisata TNBK berupa kekayaan ekosistem dan budaya di kawasan TNBK dan sekitarnya digambarkan dalam motto “You’ll Get It All, Nature, Culture, and Adventure in Betung Kerihun National Park”.

Motto tersebut sudah cukup menggambarkan aktivitas apa saja yang akan didapatkan bila berkunjung ke TNBK. Berbagai aktivitas wisata yang tercakup dalam konteks ”nature, culture, and adventure” dapat dinikmati di setiap DAS yang ada di TNBK. Masing-masing DAS menawarkan fenomena dan pengalaman berbeda.

 

Alam

Keindahan bentang alam TNBK yang unik dan bervariasi, dimulai dari keberagaman ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga tipe geologi kawasan TNBK menyimpan keindahan yang layak untuk dinikmati. Setiap Sungai yang melintasi kawasan TNBK menyimpan pemandangan dan fenomena alam yang unik. Wilayah barat TNBK (DAS Embaloh) dan DAS Sibau merupakan habitat dari spesies kunci kawasan TNBK. Berbagai jenis flora dan fauna endemik dapat dilihat di kawasan ini. Di dalam kawasan TNBK tercatat terdapat 695 jenis pohon yang tergolong dalam 15 marga, dan 63 suku yang 50 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Borneo, dimana Dipterocarpaceae mempunyai jumlah jenis terbesar, yaitu 121 dari total 267 jenis yang tumbuh di Borneo. Dari jenis fauna tercatat sebanyak 48 jenis mamalia, 7 primata, 112 jenis ikan, 301 jenis burung dan 103 jenis herpetofauna. Hal yang menarik adalah masih banyak ditemukannya big trees dari berbagai spesies dan fauna endemik seperti, Orangutan “Pygmaeus”, Enggang dan Merak Kalimantan.

Satu hal yang khas adalah keberadaan Sepan di Kawasan TNBK. Sepan adalah tempat yang paling cocok untuk dilakukan pengamatan mamalia besar, dimana mamalia besar sering menuju sepan pada pagi dan sore hari untuk minum. Sepan terdapat hampir di seluruh Sub DAS TNBK. Masing-masing terdapat satu sepan di Sub DAS Bungan yaitu di dekat muara Sungai Pono, di Sub DAS Kapuas Koheng terdapat di Sungai Tahum, di Sub DAS Sibau terdapat di Sungai Payo’, dan di Sub DAS Embaloh di Sungai Gamalung. Sedangkan di Sub DAS Mendalam setidaknya terdapat dua belas sepan. Sepan merupakan mata air dengan kandungan mineral garam yang relatif lebih tinggi dari air di sekitarnya. Mineral garam ini bisa berasal dari rembesan garam-garam yang terbawa air setelah melalui proses kimia dari dekomposisi serasah atau pelapukan batuan induknya.

Titik-titik yang dapat dituju untuk menikmati keindahan alam TNBK diantaranya adalah, Karangan Laboh dengan air terjunnya, Gua Pajau dan Riam Naris yang terletak di DAS Embaloh, Menyakan di DAS Sibau, dan Mentibat di DAS Mendalam.

Budaya

Tujuh sub-etnis dayak yang tinggal di sekitar kawasan TNBK memiliki kekayaan budaya yang dipastikan sangat menarik minat para ekoturist. Dimulai dari Dayak Iban dan Tamambaloh di wilayah barat TNBK (DAS Embaloh), Dayak Kantuk dan Taman Sibau (DAS Sibau), Kayan Mendalam dan Bukat (DAS Mendalam), serta Punan Hovongan di DAS Kapuas masing-masing memiliki kekayaan budaya berupa bahasa, perayaan adat, tari dan musik tradisional, life culture, kerajinan dan rumah adat (rumah betang) yang berbeda dan memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing.

Lokasi-lokasi yang dapat dikunjungi untuk menikmati keberagaman rumah betang ini antara lain adalah di Melapi, Sibau Hulu (Baligundi), Uluk Palin, Sungai Utik, Pinjawan, Sadap dan Sungai Sedik. Rumah betang Uluk Palin sendiri tercatat merupakan rumah betang tertua untuk seluruh etnis dayak yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu.

Rumah panjang merupakan rumah adat khas Etnis Dayak di Kalimantan Barat. Nama lokal untuk rumah ini adalah ”Rumah Betang”. Rumah ini dihuni oleh beberapa keluarga dari etnis bersangkutan. Setiap sub-etnis memiliki desain dan landasan filosofis yang berbeda untuk rumah ini. Pembagian bilik/ ruangan dalam rumah ini mencerminkan stratifikasi unik dari masyarakat tersebut.

Masing-masing etnis masih memegang tradisi dan budaya yang telah diwariskan nenek moyang mereka, salah satunya adalah upacara adat. Upacara adat yang terkenal adalah berupa perayaan panen, dimana tiap etnis memiliki nama berbeda untuk perayaan panen tersebut. Masyarakat Tamambaloh dengan upacara “Pamole Beo”, dan Masyarakat Iban dengan “Gawai”. Selain itu juga terdapat sebuah upacara pengobatan tradisional “Balian” yang dimiliki oleh Masyarakat Dayak Taman.

Petualangan

TNBK juga memberikan sisi petualangan bagi para adventurer. Dari 179 puncak yang dimiliki kawasan TNBK, setidaknya ada 4 (empat) puncak gunung yang layak untuk didaki, yakni Gunung Betung (1.150 m), Gunung Condong (1.240 m) di DAS Embaloh, Gunung Lawit (1.770 m) di DAS Sibau, Bukit Metibat (1.240 m) di DAS Mendalam dan Gunung Kerihun (1.790 m) yang berada di DAS Bungan.

Masih sangat jarang pendaki yang menaiki keempat puncak tersebut, sehingga dipa stikan akan memberikan tantangan berat bagi para pendaki mengingat kealamian jalur pendakian tersebut. Selain pendakian, keempat DAS di wilayah TNBK juga memberikan tantangan khusus bagi petualang air. Arung jeram dengan rute sedang hingga berat tersedia di TNBK. Sungai Embaloh, Sungai Sibau dan Sungai Mendalam memberikan tantangan sedang, sementara Sungai Kapuas dan Bungan memberikan tantangan ekstrim dengan grade 5.

Disamping itu, juga bisa dilakukan variasi petualangan air lainnya, seperti kanoeing, body rafting, ataupun board rafting. Puncak petualangan ekstrim yang dapat dilakukan di kawasan TNBK adalah extreme jungle trekking (jalur migrasi masyarakat Dayak Bukat), cross borneo west to east yang merupakan perjalanan bersejarah dari Dr. Niuwenhuis sebagaimana tergambar dalam bukunya “In Centraal Borneo” (1864), melintasi DAS Kapuas-Pegunungan Muller-Sungai Mahakam.

 

Jadi, tunggu apa lagi, segeralah berkunjung di Taman Nasional Betung Kerihun.

 


Actions

Information

2 responses

12 11 2010
Kang Wed

niceee….

sip oom, preborn Online Mag TNBK nih
tinggal diintegrate aja nanti ke website kalo dah jadi

12 11 2010
buletinbetungkerihun

amin, amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: