Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh

11 11 2010

 

Oleh : Marwedhi Nurratyo, S.Hut

 

Kearifan lokal sebenarnya bukan barang baru dalam pengelolaan sumber daya alam. Dalam berbagai sarasehan, diskusi atau pertemuan sering dimunculkan istilah kearifan lokal untuk mengungkapkan bahwa masyarakat lokal jaman dahulu telah mempunyai cara yang ramah lingkungan dalam mengelola sumber daya alam hayati, sehingga sumber daya alam tersebut tetap terjaga kelestariannya.

Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) yang memiliki luas 800.000 ha dan membentang dari timur ke barat dengan sosio kultur yang beragam memiliki khasanah dan kearifan lokal yang berbeda-beda sesuai dengan suku masing-masing.

Walaupun sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar TNBK adalah Suku Dayak, namun sub Suku Dayak juga sangat beragam. Tidak kurang 8 Suku Dayak yang mendiami wilayah di sekitar TNBK, antara lain : Iban, Tamambaloh, Taman, Kantu’, Kayaan, Bukat dan Punan Hovongan.

Kali ini kita coba mengangkat mengenai kearifan lokal khusus Dayak Tamambaloh. Suku ini berdiam di sekitar kawasan TNBK bagian barat terutama di sepanjang Sungai Embaloh yang merupakan salah satu dari 4 (empat) sungai utama yang masuk wilayah TNBK. Sungai Embaloh merupakan prasarana transportasi utama bagi warga suku Dayak Tamambaloh dalam beraktivitas baik berladang maupun mencari ikan, sehingga sarana transportasi yang diandalkan di daerah ini adalah sampan.

Menelisik lebih jauh, ternyata pembuatan sampan masyarakat Tamambaloh tidak sesederhana yang kita bayangkan. Dahulu pembuatan sampan dilakukan dengan melubangi balok (log) kayu bulat kemudian kayu tersebut ditaruh di atas api hingga lubangnya sedikit membuka. Uniknya ada beberapa aturan yang tidak boleh dilanggar dalam pembuatan sampan. Berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pembuatan sampan antara lain :

  • Ketika menemukan kayu bagus, sedang di sampingnya ada kayu kecil, maka kayu tersebut tidak boleh digunakan sebagai sampan, karena menurut kepercayaan, kayu kecil tersebut akan menjadi penandu peti mati bagi orang yang membuat sampan tersebut.
  • Ketika menebang kayu ternyata kayunya tidak lari jauh dari tonggaknya maka tidak boleh dipakai untuk membuat sampan.
  • Apabila ada kayu yang bagus buat sampan, tapi bercabang dua yang sama, maka tidak boleh untuk membuat sampan.
  • Ketika ingin membuat dua sampan atau lebih dari kayu yang sama, maka sampan-sampan tersebut tidak boleh berukuran sama, karena akan menyerupai lungun (peti mati). Menurut kepercayaan, apabila kedua sampan dipakai dua orang yang berbeda, maka yang kalah semangatnya akan duluan mati, baru kemudian tidak lama menyusul setelahnya.
  • Ketika pertama turun ke sungai, sampan harus diarahkan ke hulu terlebih dahulu, ini menandakan bahwa sampan ini akan digunakan untuk kemajuan.
  • Kayu kokorek tidak boleh dibuat sampan. Apabila dibuat sampan, ketika sampan belum rusak, maka yang punya sudah mati duluan. Begitu bagusnya maka mengalahkan roh pemilik sampan itu sendiri.

Begitulah beberapa kearifan lokal masyarakat Dayak Tamambaloh khususnya dalam membuat sampan. Begitu banyak pantangan dan aturan yang harus diperhatikan untuk membuat sampan.

Moral dari kearifan lokal tersebut tentunya adalah berujung pada pelestarian sumberdaya alam hayati karena bila kita perhatikan lebih lanjut, larangan-larangan dan pantangan yang tertulis di atas sedikit banyak juga akan menjadi salah satu benteng pertahanan kawasan TNBK dari pembalakan liar, karena penduduk setempat sampai saat ini pun masih memegang teguh beberapa pantangan seperti di atas.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: