EFEK TEPI (EDGE EFFECT) DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KONSERVASI

11 11 2010

Oleh : Irwan Lovadi

 

Sebagian kawasan hutan di negara berkembang terutama di daerah tropis mengalami perubahan fungsi sehingga menjadi areal perternakan, pertanian, dan daerah pengembangan kota sejak beberapa dekade yang lalu. Akibatnya, hutan yang awalnya utuh kemudian menjadi kelompok-kelompok kecil kawasan hutan. Proses terbentuknya kelompok kecil kawasan hutan tersebut dapat dikategorikan sebagai fragmentasi habitat (Wilcove et al. 1986). Perubahan fungsi kawasan hutan tersebut, sayangnya, juga terjadi di kawasan konservasi, seperti taman nasional dan cagar alam.

Perubahan fungsi hutan di areal kawasan konservasi di Indonesia terjadi melalui berbagai macam bentuk, misalnya pembangunan jalan, peminjaman atau pelepasan kawasan. Pembangunan jalan yang membelah Taman Nasional Kutai adalah salah satu contoh yang sangat nyata. Perubahan fungsi kawasan hutan menjadi areal dengan fungsi non-kehutanan di dalam kawasan konservasi memiliki dampak yang nyata bagi struktur vegetasi dan komposisi tumbuhan yang ada. Hilangnya jenis-jenis pohon yang berakibat pada perubahan struktur vegetasi dan komposisi tumbuhan merupakan salah satu dampak tersebut. Perubahan struktur dan komposisi tumbuhan ini pada akhirnya akan membentuk habitat tepi (habitat edge) (Murcia, 1995) atau yang dulu lebih dikenal dengan istilah ekoton (Ries et al. 2004). Kondisi lingkungan di habitat tepi memiliki karakteristik yang berbeda dengan kondisi lingkungan di dalam hutan. Kondisi yang berbeda ini akan memiliki dampak ekologis terhadap tumbuhan, hewan maupun organisme lain. Dampak dari bertemunya dua kondisi lingkungan yang berbeda tersebut terhadap tumbuhan dan hewan dapat di sebut efek tepi (edge effect) (Murcia, 1995).

Gambar 1. Pembangunan jalan yang menyebabkan perubahan fungsi kawasan hutan

Istilah efek tepi pertama kali dikemukakan oleh Leopold untuk menggambarkan kecenderungan peningkatan keragaman jenis di bentang alam yang terfragmentasi (Leopold (1933) dalam Ries et al. (2004). Namun dari hasil penelitian dalam beberapa dekade terakhir terungkap bahwa respon tumbuhan, satwa dan organisme lainnya cukup beragam. Situasi yang demikian telah membuat konsep efek tepi tersebut mulai berkembang. Respon tumbuhan dan hewan tidak hanya menunjukkan kecenderungan peningkatan keragaman jenis tetapi juga menunjukkan penurunan atau tanpa perubahan (Ries et al. 2004). Berdasarkan kecenderungan tersebut, Ries et al. (2004) membagi respon organisme menjadi tiga kelompok: respon positif jika parameter yang diamati seperti: kemelimpahan dan keragaman jenis meningkat di habitat tepi; respon negatif jika ada kecenderungan penurunan dari parameter di habitat tepi yang diamati; dan respon netral bila tidak ada perbedaan nilai dari parameter yang diamati baik di habitat tepi maupun di dalam hutan. Murcia (1995) berpendapat bahwa variasi respon ini mungkin sebabkan oleh beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, seperti: penggunaan metodologi yang tidak sama.

Meskipun pengaruh positif mungkin terjadi, namun Primack, seorang pakar biologi konservasi, menyebutkan bahwa organisme yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan di habitat tepi memiliki kemungkinan untuk punah. Penelitian di Argentina pada tahun 1995 menunjukkan penurunan kemelimpahan jenis pohon yang memiliki diameter batang yang besar di hutan semi-arid. Hasil yang sama juga dibuktikan dari hasil penelitian pada tingkat pertumbuhan lumut (Bryophyta) yang ditumbuhkan di dalam pot yang diletakkan pada beberapa jarak dari tepi hutan boreal di Swedia.

Dampak negatif serupa juga dijumpai pada hewan. Penelitian pengaruh efek tepi pada herpetofauna (reptil and amfibi) di Madagaskar yang dilakukan oleh Lehtinen dan tim penelitinya menunjukkan bahwa kelompok hewan tersebut terpengaruh oleh perubahan kondisi lingkungan di habitat tepi. Penelitian lain di Uganda melaporkan tingginya kerusakan lahan pertanian yang berbatasan dengan tepi hutan akibat aktivitas monyet liar.

Hasil-hasil temuan dari penelitian efek tepi di atas sesungguhnya memiliki implikasi bagi konservasi. Sikap kehati-hatian dalam mengambil kebijakan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan hutan harus berdasar pada kajian para peneliti biologi konservasi sehingga pengaruh efek tepi dapat diminimalisir. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait prinsip di atas, antara lain:

  1. fragmen hutan yang berukuran kecil memiliki pengaruh efek tepi negatif yang lebih besar dibandingkan dengan fragmen hutan yang berukuran besar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara luas fragmen hutan dengan keanekaragaman dan kemelimpahan jenis tumbuhan dan hewan. Seberapa kecil fragmen hutan yang dapat menunjang keanekaragaman hayati tergantung jenis tumbuhan atau hewan yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan di suatu wilayah.
  2. bentuk fragmen hutan yang tersisa mempengaruhi intensitas dari pengaruh efek tepi terhadap tumbuhan dan satwa. Peneliti dari Australia, Williams dan Pearson, membuktikan adanya pengaruh bentuk fragmen hutan terhadap vertebrata (hewan bertulang belakang) endemik di bioregion Wet Tropics, Australia. Pengaruh bentuk ini terjadi jika fragmen hutan memiliki bentuk yang tidak beraturan dan daerah yang tidak terkena efek tepi berukuran kecil.

Actions

Information

3 responses

1 01 2011
dini

boleh minta sumber literatur artikel ini, ya?
terimakasih

10 01 2011
buletinbetungkerihun

terimakasih mbak dini, akan kami sampaikan ke penulisnya.

14 10 2012
indramenhut

efek tepi itu sangat berpengaruh pada ekosistem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: