Peringatan Hari Bhakti Rimbawan Tahun 2010

12 11 2010


Seperti halnya instansi lain di lingkup Kementerian Kehutanan, tanggal 16 Maret selalu disambut dengan berbagai acara dalam rangka memperingati Hari Bhakti Rimbawan yang jatuh pada tanggal tersebut.  Demikian juga dengan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), dalam rangka memeriahkan Hari Bhakti Rimbawan tahun 2010 ini dilakukan berbagai kegiatan perlombaan antar karyawan, karyawati serta keluarga besar TNBK dan apel bendera sebagai puncak acaranya.

Kegiatan yang dilakukan selama tiga hari ini cukup menyita banyak perhatian dari karyawan dan karyawati TNBK yang turut ambil bagian dalam kegiatan lomba-lomba yang ada. Perlombaan yang yang diselenggarakan antara lain adalah lomba balap karung, tarik tambang, trup dan tenis meja bagi karyawan, karyawai serta keluarga besar TNBK, dan dua perlombaan untuk anak-anak  yaitu lomba makan kerupuk dan lomba bawa kelereng. Adapun tujuan dari kegiatan perlombaan ini  adalah untuk mempererat tali silahturahmi antara karyawan, karyawati serta keluarga besar TNBK. Kegiatan yang dilaksanakan mulai tanggal 12 – 14 Maret 2010 yang bertempat di halaman kantor Balai Besar TNBK.

Sebagai acara puncak Hari Bhakti Rimbawan tahun 2010 ini dilaksanakan apel bendera yang dipimpin oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNBK Bapak Ir. John Haskar selaku Inspektur Upacara dan selaku Komandan upacara adalah Ade Kurniadi Karim, A.Md. (Jossy)





Pembahasan Pembuatan Profil Investasi di Ruang Rapat Bupati Kapuas Hulu tanggal 15 Juni 2010

12 11 2010

Pertengahan Juni lalu, Sekda Kabupaten Kapuas Hulu menggelar pertemuan guna membahas penyusunan profil investasi di Bumi Uncak Kapuas. Assisten Perekonomian dan Pembangunan, Kadisbunhut, Kepala Balai Besar TNBK, pejabat struktural dari Disperindagkop, Disbubpar, Distamben, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu tampak hadir dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Sekda Kapuas Hulu.

Rapat ini diselenggarakan dalam rangka menarik calon investor dari Timur Tengah yang ingin menanamkan modal mereka di sejumlah sektor, seperti pertambangan, pariwisata alam, kehutanan, perikanan dan kehutanan. Sejumlah poin penting berhasil dirumuskan dalam pertemuan ini termasuk memasukkan 4 sektor prioritas yang akan dikembangkan di Kabupaten Kapuas Hulu (pariwisata, kehutanan, pertambangan dan perikanan) dalam penawaran investasi ke calon pemodal asing asal Timur Tengah (Yhan).





Menikmati Alam, Budaya dan Petualangan di Taman Nasional Betung Kerihun

12 11 2010

Oleh : Arief Khristanto

 

Trend pariwisata yang saat ini condong kepada ekowisata menuntut sebuah destinasi untuk memberikan sebuah nilai tambah (added value) bagi para pengunjungnya. Para ekoturist saat ini juga mengejar sebuah pengalaman baru dari aktivitas wisata yang dilakukannya bukan hanya sekedar media pelepas lelah (refreshing). Salah satu tipe destinasi ekowisata adalah taman nasional. Keunikan, kekhasan bahkan kemisteriusan sebuah taman nasional menjadi nilai daya tarik tersendiri bagi beberapa ekoturist.

Taman Nasional Betung Kerihun mewakili sebuah destinasi berupa ekosistem hutan hujan tropis borneo yang masih alami, berikut dengan kekayaan budaya dari masyarakat lokal yang mayoritas adalah suku dayak. Delapan tipe ekosistem hutan hujan tropis yang membentang dalam luasan 800.000 hektar merupakan sebuah destinasi wisata yang sangat menakjubkan. TNBK menyediakan sebuah fenomena alam, budaya dan surga petualangan bagi para ekoturist. Keanekaragaman atraksi wisata TNBK berupa kekayaan ekosistem dan budaya di kawasan TNBK dan sekitarnya digambarkan dalam motto “You’ll Get It All, Nature, Culture, and Adventure in Betung Kerihun National Park”.

Motto tersebut sudah cukup menggambarkan aktivitas apa saja yang akan didapatkan bila berkunjung ke TNBK. Berbagai aktivitas wisata yang tercakup dalam konteks ”nature, culture, and adventure” dapat dinikmati di setiap DAS yang ada di TNBK. Masing-masing DAS menawarkan fenomena dan pengalaman berbeda.

 

Alam

Keindahan bentang alam TNBK yang unik dan bervariasi, dimulai dari keberagaman ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga tipe geologi kawasan TNBK menyimpan keindahan yang layak untuk dinikmati. Setiap Sungai yang melintasi kawasan TNBK menyimpan pemandangan dan fenomena alam yang unik. Wilayah barat TNBK (DAS Embaloh) dan DAS Sibau merupakan habitat dari spesies kunci kawasan TNBK. Berbagai jenis flora dan fauna endemik dapat dilihat di kawasan ini. Di dalam kawasan TNBK tercatat terdapat 695 jenis pohon yang tergolong dalam 15 marga, dan 63 suku yang 50 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Borneo, dimana Dipterocarpaceae mempunyai jumlah jenis terbesar, yaitu 121 dari total 267 jenis yang tumbuh di Borneo. Dari jenis fauna tercatat sebanyak 48 jenis mamalia, 7 primata, 112 jenis ikan, 301 jenis burung dan 103 jenis herpetofauna. Hal yang menarik adalah masih banyak ditemukannya big trees dari berbagai spesies dan fauna endemik seperti, Orangutan “Pygmaeus”, Enggang dan Merak Kalimantan.

Satu hal yang khas adalah keberadaan Sepan di Kawasan TNBK. Sepan adalah tempat yang paling cocok untuk dilakukan pengamatan mamalia besar, dimana mamalia besar sering menuju sepan pada pagi dan sore hari untuk minum. Sepan terdapat hampir di seluruh Sub DAS TNBK. Masing-masing terdapat satu sepan di Sub DAS Bungan yaitu di dekat muara Sungai Pono, di Sub DAS Kapuas Koheng terdapat di Sungai Tahum, di Sub DAS Sibau terdapat di Sungai Payo’, dan di Sub DAS Embaloh di Sungai Gamalung. Sedangkan di Sub DAS Mendalam setidaknya terdapat dua belas sepan. Sepan merupakan mata air dengan kandungan mineral garam yang relatif lebih tinggi dari air di sekitarnya. Mineral garam ini bisa berasal dari rembesan garam-garam yang terbawa air setelah melalui proses kimia dari dekomposisi serasah atau pelapukan batuan induknya.

Titik-titik yang dapat dituju untuk menikmati keindahan alam TNBK diantaranya adalah, Karangan Laboh dengan air terjunnya, Gua Pajau dan Riam Naris yang terletak di DAS Embaloh, Menyakan di DAS Sibau, dan Mentibat di DAS Mendalam.

Budaya

Tujuh sub-etnis dayak yang tinggal di sekitar kawasan TNBK memiliki kekayaan budaya yang dipastikan sangat menarik minat para ekoturist. Dimulai dari Dayak Iban dan Tamambaloh di wilayah barat TNBK (DAS Embaloh), Dayak Kantuk dan Taman Sibau (DAS Sibau), Kayan Mendalam dan Bukat (DAS Mendalam), serta Punan Hovongan di DAS Kapuas masing-masing memiliki kekayaan budaya berupa bahasa, perayaan adat, tari dan musik tradisional, life culture, kerajinan dan rumah adat (rumah betang) yang berbeda dan memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing.

Lokasi-lokasi yang dapat dikunjungi untuk menikmati keberagaman rumah betang ini antara lain adalah di Melapi, Sibau Hulu (Baligundi), Uluk Palin, Sungai Utik, Pinjawan, Sadap dan Sungai Sedik. Rumah betang Uluk Palin sendiri tercatat merupakan rumah betang tertua untuk seluruh etnis dayak yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu.

Rumah panjang merupakan rumah adat khas Etnis Dayak di Kalimantan Barat. Nama lokal untuk rumah ini adalah ”Rumah Betang”. Rumah ini dihuni oleh beberapa keluarga dari etnis bersangkutan. Setiap sub-etnis memiliki desain dan landasan filosofis yang berbeda untuk rumah ini. Pembagian bilik/ ruangan dalam rumah ini mencerminkan stratifikasi unik dari masyarakat tersebut.

Masing-masing etnis masih memegang tradisi dan budaya yang telah diwariskan nenek moyang mereka, salah satunya adalah upacara adat. Upacara adat yang terkenal adalah berupa perayaan panen, dimana tiap etnis memiliki nama berbeda untuk perayaan panen tersebut. Masyarakat Tamambaloh dengan upacara “Pamole Beo”, dan Masyarakat Iban dengan “Gawai”. Selain itu juga terdapat sebuah upacara pengobatan tradisional “Balian” yang dimiliki oleh Masyarakat Dayak Taman.

Petualangan

TNBK juga memberikan sisi petualangan bagi para adventurer. Dari 179 puncak yang dimiliki kawasan TNBK, setidaknya ada 4 (empat) puncak gunung yang layak untuk didaki, yakni Gunung Betung (1.150 m), Gunung Condong (1.240 m) di DAS Embaloh, Gunung Lawit (1.770 m) di DAS Sibau, Bukit Metibat (1.240 m) di DAS Mendalam dan Gunung Kerihun (1.790 m) yang berada di DAS Bungan.

Masih sangat jarang pendaki yang menaiki keempat puncak tersebut, sehingga dipa stikan akan memberikan tantangan berat bagi para pendaki mengingat kealamian jalur pendakian tersebut. Selain pendakian, keempat DAS di wilayah TNBK juga memberikan tantangan khusus bagi petualang air. Arung jeram dengan rute sedang hingga berat tersedia di TNBK. Sungai Embaloh, Sungai Sibau dan Sungai Mendalam memberikan tantangan sedang, sementara Sungai Kapuas dan Bungan memberikan tantangan ekstrim dengan grade 5.

Disamping itu, juga bisa dilakukan variasi petualangan air lainnya, seperti kanoeing, body rafting, ataupun board rafting. Puncak petualangan ekstrim yang dapat dilakukan di kawasan TNBK adalah extreme jungle trekking (jalur migrasi masyarakat Dayak Bukat), cross borneo west to east yang merupakan perjalanan bersejarah dari Dr. Niuwenhuis sebagaimana tergambar dalam bukunya “In Centraal Borneo” (1864), melintasi DAS Kapuas-Pegunungan Muller-Sungai Mahakam.

 

Jadi, tunggu apa lagi, segeralah berkunjung di Taman Nasional Betung Kerihun.

 





Potensi Keunikan Budaya Punan Hovongan di Timur Kawasan TNBK

12 11 2010

Oleh : Syarif M. Ridwan

Mungkin buat sebagian orang tidak pernah terpikirkan bahwa di perhuluan Sungai Kapuas yang kondisi alamnya masih berhutan lebat dan aksesibilitas relatif sulit dijangkau terdapat pemukiman kelompok masyarakat disana. Desa Tanjung Lokang yang merupakan perkampungan terakhir di perhuluan Sungai Bungan, anak cabang sungai Kapuas ini dihuni oleh masyarakat Dayak Sub Etnik Punan Hovongan. Mereka telah bermukim di wilayah tersebut jauh sebelum masa penjajahan di Indonesia. Dahulunya mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di dalam gua-gua dan di hutan.

Berbagai kebiasaan, cara hidup, aturan-aturan serta seni dan kerajinan merupakan bagian dari tatanan sosial dalam suatu kelompok etnis. Keunikan tersebut merupakan aset yang tidak ternilai bagi daerah, dan dalam skala besarnya lagi adalah Indonesia. Terlebih lagi bahwa pemukiman ini terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, yang semakin menambah keunikan dan kekayaan potensi alam dan budaya di dalamnya.

Keberadaan Taman Nasional Betung Kerihun dan masyarakat yang bermukim di sekitarnya mempunyai pertalian yang sangat erat. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat lokal sangat tergantung kepada hutan dan sungai di sekitarnya. Namun pengetahuan lokal yang mereka miliki secara turun temurun mengajari untuk santun terhadap alam, memanfaatkan hanya sesuai kebutuhan dan menghindari kerusakan. Mereka juga akan sulit untuk bertahan hidup jika kondisi alam di sekitar mereka menjadi rusak dan cenderung mendatangkan bencana. Dengan tetap menjaga kelestarian budaya masyarakat Punan Hovongan tentunya akan dikuti dengan lestarinya Taman Nasional Betung Kerihun. Untuk menunjang hal tersebut juga perlu dicarikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat sekitar agar tidak sepenuhnya tergantung kepada alam.

Kekayaan Keunikan TNBK serta keragaman budaya masyarakat yang bermukim di sekitarnya sangat berpotensi dikembangkan sebagai paket  Ekowisata. Pariwisata berkelanjutan ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan alternatif mata pencaharian masyarakat sekitar tanpa menggadaikan alam dan mengubah kebudayaan yang ada.

Etnik Dayak Punan Hovongan yang tinggal di wilayah timur kawasan TNBK ini memiliki budaya yang cukup unik dan menarik apabila dikemas menjadi paket wisata. Beberapa atraksi budaya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai paket wisata diantaranya adalah :

1.         Pengetahuan lokal dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari

a.       Berladang

Berladang merupakan  aktifitas  utama  bagi  masyarakat sekitar, dimana  kegiatan  ini  paling  banyak  menyita  waktu. Dalam satu  tahun kegiatan  berladang ini  memakan  waktu  6-8 bulan. Masyarakat mengatur  sendiri daerah untuk  berladang, hutan  cadangan dan mengolah  sumber  daya  alam  yang  memiliki  nilai  konservasi  dan  aspek  kelestarian. Aturan  kepemilikan ladang pun  diatur  secara  turun-temurun.

Biasanya sebelum berladang dan sesudah panen dilakukan upacara-upacara tertentu yang telah berlangsung secara turun menurun. Selain itu terdapat juga kearifan tradisional yang masih terjaga yaitu menyimpan benih padi berkualitas baik sehingga terjamin keberlangsungan genetik padi lokal yang ada.

b.      Berburu dan Mencari Ikan

Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, masyarakat biasanya berburu babi, rusa, kancil, kijang dan mencari ikan. Selain diperjualbelikan, hasil buruan juga biasanya untuk sumbangan ke acara pesta perkawinan atau acara lainnya yang dilaksanakan di kampung.  Lokasi berburu masyarakat adalah di sepan dan di hutan yang banyak pohon buah-buahan. Selain itu berburu bisa juga dilakukan di bekas ladang yang masih baru. Biasanya para pemburu melihat tanda-tanda ada binatang buruan dari bekas jejak kaki di tanah. Senjata yang dipergunakan untuk berburu seperti senapan rakitan, sumpit, tombak dan dibantu anjing untuk memudahkan menemukan binatang buruan.

Aktivitas mencari ikan biasanya dilakukan di lubuk sungai, muara dan bagian perhuluan sungai. Aktifitas mencari ikan ini mereka lakukan hampir setiap hari atau di saat mereka sedang membutuhkan ikan untuk lauk pauk. Peralatan yang biasa digunakan untuk mencari ikan seperti pancing, jala, pukat, dll.

c.       Membuat Perahu

Alat transportasi satu-satunya yang terdapat di Tanjung Lokang adalah transportasi sungai seperti sampan atau perahu bermesin. Untuk berpergian ke suatu tempat yang relatif jauh, masyarakat sekitar tidak lepas dari alat transportasi tersebut. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki perahu bahkan ada yang lebih dari satu.

Pengetahuan tentang membuat perahu sudah turun-temurun dimiliki masyarakat Tanjung Lokang. Mengenai bentuknya juga cukup unik dan memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan di tempat lain. Untuk daerah perhuluan khususnya di Tanjung Lokang bentuk perahu yang tepat adalah tidak terlalu lebar dan “langkannya” dibuat sedikit melengkung agar perahu tersebut dapat menyesuaikan dengan ombak riam yang besar. Untuk penentuan bentuk dibiasanya berdasarkan keinginan yang membuat atau yang memesan. Ini juga disesuaikan dengan kepentingan dibuatnya perahu tersebut atau tergantung besarnya mesin yang dipasang pada perahu.

Adalah pemandangan biasa apabila di setiap rumah terdapat langkan perahu yang disimpan di bawah rumah atau di depan rumah mereka. Di beberapa tempat juga bisa dijumpai perahu yang sedang dikerjakan pemiliknya. Yang menarik proses pembuatan perahu tersebut masih dilakukan secara tradisional dengan peralatan seadanya. Dalam beberapa kegiatan seperti pembuatan langkan perahu dilakukan secara bergotong royong.

d.      Membuat parang/ mandau

Pembuatan mandau atau parang di Tanjung Lokang masih dikerjakan secara tradisional. Dalam prosesnya, besi yang akan dijadikan mandau atau parang tersebut dibakar sampai menjadi merah selama 5 sampai 7 menit. Sesudah menjadi bara besi baru dipotong sesuai bentuk yang dinginkan dan kemudian ditempa dengan menggunakan pemukul besi. Sesudah terbentuk terlebih dahulu dikikir untuk kemudian dibakar lagi di atas api. Setelah membara di sepuh, yaitu bagian mata parang atau mandau yang tajam dimasukan ke dalam air. Bisa juga disepuh dengan memasukan ke dalam tanah yang dibasahi dengan air. Sebelum diasah dicoba terlebih dahulu dengan memukulkan besi tersebut ke besi lain. Apabila dapat membuat cacat besi tersebut berarti hasil sepuhan tadi bagus. Akhir dari proses ini adalah dengan mengasah mata parang agar menjadi tajam dan siap digunakan.

e.       Mencari hasil Hutan

Kehidupan masyarakat dayak Tanjung Lokang tidak terlepas dari hutan di sekitarnya. Dari hutan mereka mengumpulkan hasil hutan yang akan mereka pergunakan sehari-hari seperti kayu bangunan, rotan, kayu bakar, damar, daun pandan, gaharu, tanaman obat-obatan, dll. Biasanya hasil hutan tersebut mereka jadikan peralatan kerja atau rumah tangga dan ada juga untuk dikonsumsi.

Yang unik dari aktifitas tersebut adalah hasil hutan yang mereka ambil sangat terbatas untuk keperluan sendiri dan tidak bersifat komersil kecuali untuk gubal gaharu yang biasanya mereka jual kepada penadahnya. Namun untuk pencarian gubal gaharu ini sangat jarang mereka lakukan karena memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama. Biasanya yang banyak mencari gubal gaharu tersebut adalah orang luar Tanjung Lokang seperti dari Putussibau dan sekitarnya.

f.       Menumbuk padi

Menumbuk padi dengan menggunakan lesung adalah aktifitas yang sering dilakukan oleh kaum ibu-ibu hampir setiap hari. Dengan menggunakan alu dan lesung padi ditumbuk dengan irama yang beraturan sehingga menimbulkan suara yang menarik. Tanpa berhenti orang yang menumbuk ini mengeluarkan beras yang sudah ditumbuk dari lubang lesung. Atraksi yang biasa bagi masyarakat lokal ini terasa sangat menarik dan unik untuk diamati bagi wisatawan. Bahkan biasanya mereka akan tertarik mencoba menumbuk padi tersebut. Suatu potensi yang dapat dikemas menjadi suatu paket atraksi wisata.

Jumlah orang yang menumbuk padi biasanya bervariasi, antara 1 sampai dengan 6 orang tergantung kepada jumlah lubang lesung. Apabila lubangnya 1, 1-2 orang yang menumbuk padi. Jika lubangnya 2, 2-4 orang yang ikut menumbuk padi. Jika lubangnya 3 sampai 6 orang yang menumbuk padi. Namun sekarang masyarakat lebih beralih kepada cara modern yaitu mempergunakan mesin. Hal ini dirasakan lebih praktis dan hasilnya lebih banyak. Tetapi jika minyak mulai langka dan mahal di Tanjung Lokang, masyarakat dengan sendirinya akan kembali ke cara tradisional.

2.         Atraksi seni dan tari-tarian

Sama dengan sub etnik Dayak lainnya, Dayak Punan Hovongan di Tanjung Lokang juga memiliki keunikan seni dan tari-tarian yang unik. Pada awalnya atraksi seni dan tari-tarian ini hanya dilakukan pada acara-acara adat tertentu seperti penyambutan tamu, tarian perang, tarian burung dan lainnya.

Yang menarik bentuk tarian serta makna yang terkandung di dalam tari-tarian tersebut terinspirasi dari alam di sekitar mereka. Tarian “Leluvak”, misalnya, yang dalam bahasa Punan artinya gelombang, diciptakan dari pengalaman sehari-hari mereka yang ketika sedang berperahu pasti melewati riam yang bergelombang. Ada juga tarian yang diberi nama “Jut Ubing”. Ubing adalah nama burung, dan kehadiran burung tersebut ada musimnya yaitu pada musim kemarau tepatnya pada akhir bulan Agustus samapai pertengahan bulan September setiap tahunnya. Segerombolan burung tersebut datang dan mereka turun di karangan dan pasir yang terhampar di sepanjang pantai sungai Bungan, seolah mereka berbaris memanjang sambil berjalan perlahan-lahan sambil mencari sesuatu atau makanan mereka. Burung ubing tersebut apabila datang menandakan musim untuk menugal telah datang.

Selain itu ada juga tarian “penyambutan” yang dikhususkan untuk menyambut tamu-tamu penting. Sebagai bagian tarian penyambutan ini juga ditampilkan tarian “Suguhan Kopi” yang sengaja diciptakan secara khusus untung menghidangkan kopi kepada para tamu tersebut.

Untuk mengapresiasikan perasaan senang masyarakat Punan Hovongan juga menunjukannya dalam atraksi Tarian Gembira, atau dalan bahasa  punannya “Hajo”. Tarian ini berawal dari suatu kegembiraan dan rasa senang hati yag luar biasa sehingga tidak terasa kita menyaksikan sesuatu yang sangat mengembirakan menari, melompat dan sebagainya. Sebagai ungkapan dari rasa gembira tersebut, maka terciptalah tarian gembira ini (karang Hajo’). Sesuai dengan daya pesonanya sudah tentu menarik perhatian setiap mata yang memandangnya.

Serupa dengan sub etnik Dayak lainnya, masyarakat Tanjung Lokang juga memiliki tarian Tarian Perang. Tarian perang dalam bahasa punan hovongan “Karang Betacap” terlahir dari adat zaman dahulu pada waktu jaman “ngeo” (Ngayau) di mana sesorang dianggap dewasa apabila dapat membunuh lawannya. Tarian ini sebagai tanda kemenangan setelah mereka berperang dari kampung lain. Tarian ini menggambarkan ciri khas cara berperang atau melawan musuh. Dengan memakai cawat dari kulit binatang (beruang, harimau akar) 2 penari pria yang masing-masing membawa mandau dan perisai memamerkan atraksi seperti orang yang sedang berperang. Sesekali mereka saling beradu mandau sambil meneriakan pekikan. Tarian perang ini sangat jarang dimainkan kecuali untuk acara tertentu atau ada permintaan khusus.

Atraksi tarian lain yang unik dan sering dimainkan di lokasi ladangadalah Tari “Kangkep”. Keunikan tarian ini adalah menggunakan alu dan lesung yang dimainkan oleh 2 orang penari dan 2 orang pemain alu lesung. Tarian yang menggunakan kaki ini menjadi terasa menarik dan cukup menghibur dengan gerakan penarinya yang menirukan gerakan seekor monyet.

Di Tanjung Lokang telah terbentuk suatu sanggar seni yang diberi nama “Tali Lunai“. Tali Lunai adalah Orang asli Dayak Punan yang bermukim di Lovu Hatap, bukit yang terletak di sebelah Diang Kaung. Tali Lunai ini adalah seorang sakti yang mempunyai sape yang terkenal sangat nyaring bunyinya. Biasanya pada saat dia memainkan sapenya dapat terdengar oleh orang yang tinggal di bukit Loing sehingga merekapun ikut bernari mendegarkan suara sape tersebut. Oleh sebab itulah sanggar tersebut dinamakan Tali Lunai.

Sanggar Tali Lunai ini dirikan pada tahun 2000 dengan anggotanya berjumlah sekitar dua puluh orang yang terdiri dari pengurus, pelatih dan anggotanya. Sampai sekarang sanggar ini masih aktif, namun untuk operasionalnya masih perlu mendapatkan perhatian dan pembinaan terutama peralatan dan pengemasan tarian tersebut sehingga menjadi lebih menarik lagi.

Berbicara soal prestasi, Sanggar Tali Lunai walaupun berada di daerah perhuluan yang relatif sulit dijangkau tidak kalah sama sanggar lain yang ada di Kapuas Hulu. Sanggar Tali Lunai ini pernah mendapat juara 1 Lomba Tarian Kreasi Budaya Dayak pada tahun 2000 di Putussibau pada saat Festival Budaya Kapuas Hulu tahun 2000.

3.         Kerajinan tangan

Di saat waktu senggang masyarakat Tanjung Lokang terutama kaum ibu-ibu meluangkan waktunya untuk membuat kerajinan tangan dari daun pandan, rotan maupun dari manik-manik. Berbagai kerajinan tangan seperti tikar rotan dan pandan, keranjang rotan, sarung mandau dari manik-manik, dan masih banyak lagi mereka buat hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Jika dilihat dari bentuk dan motif kerajinan tangan tersebut sangat menarik dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi cendera mata/ souvenir bagi wisatawan yang sering berkunjung ke Tanjung Lokang. Disamping itu proses pengerjaannya dapat menjadi atraksi yang menarik perhatian wisatawan tersebut.

Melihat dari paparan di atas, sungguh masyarakat Dayak Punan Hovongan memiliki potensi budaya yang kaya dan beragam. Ini dapat menjadikan nilai tambah dalam mendukung pengembangan ekowisata di TNBK. Potensi alam dan budaya ini menjadi satu kesatuan yang saling mendukung guna dikembangkan menjadi paket dan atraksi ekowisata. Pengembangan wisata di wilayah ini khususnya di timur kawasan TNBK seharusnya lebih diintensifkan agar tercapai tujuan konservasi terhadap alam sekaligus budaya dapat terwujud.





Sosialisasi Pencegahan Karhut di Dusun Nanga Hovat

12 11 2010


Persoalan lingkungan yang muncul hampir setiap tahun di Indonesia, sala satunya adalah Kebakaran Hutan, terutama pasca Tahun 2000 di Wilayah Pulau Kalimantan. Dengan sering terjadinya kebakaran hutan dan lahan, maka dampak yang ditimbulkan sangat merugikan bila dilihat dari beberapa aspek yaitu, aspek fisik dan kimia seperti hilangnya mikroorganisme yang terkandung dalam tanah, menurunya produktifitas tanah dan punahnya unsur pendukung tanah lainnya, aspek biologi seperti menurunnya keanekaragaman hayati, aspek sosial ekonomi seperti merosotnya nilai ekonomi hutan  maupun aspek ekologi yaitu terjadinya perubahan iklim mikro maupun global dan berubahnya bentangan hutan.

 

Upaya Penanganan

Keprihatinan mengenai dampak kebakaran hutan cukup signifikan, yang ditunjukan dengan penandatanganan perjanjian Lintas Batas Pencemaran Kabut oleh negara-negara anggota ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) pada bulan Juni 2002 di Kuala Lumpur, Malaysia. bahkan kebakaran hutan merupakan prioritas utama oleh Departemen Kehutanan, dengan aksi, masalah ini dimasukan ke dalam dokumen komitmen kepada negara-negara donor yang terhimpun dalam CGI (Consultative Group on Indonesia).

Dengan Luasnya 800.000 Ha, hingga saat ini Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dalam pengelolaanya belum di jumpai atau terjadinya kebakaran hutan dan lahan, namun berbagai upaya antisipasi terjadinya kebakaran hutan terus dilakukan yaitu dengan melakukan sosialisasi pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada Desa atau Dusun yang berada disekitar Kawasan Hutan TNBK, dan melakukan apel siaga kebakaran hutan yang melibakan unsur mayarakat, aparat keamanan dan pemerintah daerah, yang mana bertujuan agar dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap dampak atau bahaya kebakaran hutan.

 

Kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dilakukan di Wilayah Bidang Pengelolaan TN. Wilayah II Kedamin, Wilyah Kerja Seksi Pengelolaan TN. Wilayah III  Padua Mendalam tepatnya di Dusun Nanga Hovat Desa Datah Dian. Dusun Nanga Hovat merupakan salah satu dusun yang terletak di sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, dengan jumlah Kepala Keluarga adalah sebanyak 43 KKdan dengan jumlah jiwa kurang lebih 200 orang dan yang. Dusun Nanga Hovat dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan air (speed boat) kurang lebih 3-4 jam perjalanan dari Putussibau. Dalam kehidupannya, masyarakat Nanga Hovat di pimpin oleh seorang Kepala Dusun dan beberapa Tokoh Masyarakat dan Adat Dayak Bukat, rata-rata mata pencarian atau pekerjaan sehari-hari masyarakat Nanga Hovat adalah berladang dan berburuh.

 

Sekilas rencana dan pelaksanaan

Kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan di Dusun Nanga Hovat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu, tahapan persiapan, meliputi pembetukan panitia, penyusunan rancangan dan pembahasan rancagan, dan tahapan pelaksanaan kegiatan berupa pemberian materi sosialisasi dan praktek hingga penyusunan laporan. kegiatan ini dilakukan selama 2 hari, dari tanggal 14 s/d 15 Agustus 2010. Dalam pelaksanaannya, kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan di buka secara resmi oleh Kepala Seksi Pengelolaan TN. Wilayah III Padua Mendalam (Insan Kamil, S.Hut) sekaligus sebagai pemateri, yang dihadiri oleh masyarakat Nanga Hovat dan beberapa tokoh adat Dayak Bukat yang berjumlah sebanyak 25 orang. Dalam sambutannya Insan Kamil, S.Hut menyampaikan secara garis besar akan maksud dan tujuan kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan yang merupakan program tetap Departemen Kehutanan dalam hal ini Balai Besar TNBK untuk melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan yang rentan terjadi pada saat musim kemarau tiba, yang sangat berdampak bagi kelansungan hidup baik dari segi kesehatan maupun perekonomian masyarakat.

Materi yang disampaikan dalam sosialisasi kebakaran hutan ini lebih di titik beratkan kepada teknik penanganan pasca kebakaran seperti teknik pembutan ilaran api, “ teknik ampuh dalam mengendalikan penyebaran api”tujuan penyampain materi ini yaitu untuk menambah informasi atau pengetahuan sekaligus mengajak masyarakat yang mata pencariannya berladang agar dapat mencegah luasnya kebakaran akibat dari membakar hutan untuk dijadikan ladang.

Hal ini benar-benar sangat dipahami oleh masyarakat, dan dapat dibuktikan pada saat praktek pembuatan sekat bakar, masyarakat dengan cepat melakukanya pada saat simulasi  kebakaran hutan. Bahkan dalam sesi diskusi, Kepala Adat Suku Dayak Bukat (Pak Narock) sangat menyambut baik adanya kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan oleh Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun di Dusun Nanga Hovat, beliau juga menyampaikan atau meyakinkan semua pihak bahwa di wilayahnya tidak akan terjadi kebakaran hutan secara besar-besaran, karena beliau menyadari dan tahu akan kondisi hutan yang ada di Wilayah DAS Mendalam yang mempunyai keadaan tanah dengan tingkat kelembaban yang sangat tinggi dan tidak terdapat lahan gambut sehingga tidak mudah terjadnya penyebaran api secara besar-besaran. Selama ini diyakini beliau bahwa masyarakat dayak yang tinggal di perhuluan sungai dalam melakukan aktifitas perladangannya telah melakukan upaya pencegahan meluasnya kebakaran dengan cara menebang/menebas terlebih dahulu lokasi perladangan kemudian membersihkan pinggiran lokasi ladang tersebut. Namun dengan disampaikannya materi sosialisasi tersebut, beliau menyadari bahwa selain membersihkan perlu juga membuat sekat bakar agar tidak terjadi penyebaran api melalui serasah yang tidak kelihatan penyebaran api.

 

Harapan kedepan

Kegiatan pelaksanaan sosialisasi kebakaran hutan di dusun Nanga Hovat dapat terlaksana dengan baik oleh karena kerjasama tim yang professional, sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan sossialisasi ini telah mampu memberikan informasi atau pengetahuan baru, bahkan telah memadukan kebiasaan masyarakat dengan teknik yang berkembang  (pembuatan sekat bakar) dalam upaya-upaya penangan pengendalian kebakaran hutan.

Beberapa hal yang merupakan harapan yang diperoleh selama pelaksanaan kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan  di Nanga Hovat adalah :

1.      Agar kegiatan seperti ini lebih di intensifkan, mengingat perubahan iklim yang belakangan ini tidak sesuai musimnya,

2.      Dalam melakukan kegiatan-kegiatan di Nanga Hovat, agar TNBK terus melakukan pendampingan-pendampingan seperti tahun sebelumnya.

3.      Agar TNBK senantiasa memberikan informasi-informasi terbaru tentang pencegahan kebakaran hutan yang dianggap sangat penting guna meningkatkan kesadaran warga akan bahaya terjadinya kebakaran hutan akibat berladang.

(Jack and Mus Bidang.II)





Laurent Thomba, Peran Hukum Adat dalam Pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun

12 11 2010

Profil edisi kali ini kita akan mengenal lebih jauh tentang sosok Temenggung Sibau Hulu Bapak Laurent Thomba.S. Seperti pada malam itu pak Thomba demikian  beliau sering disapa menyambut kami Tim Buletin TNBK dengan penuh kehangatan dirumah pribadinya yang terletak di Jalan sawadaya Pasar Baru Putussibau. Saat menginjakkan kaki pertama dikediaman beliau, unsur kesederhanaan sudah tampak pada halaman rumah mungil, kamipun diajak masuk kedalam rumah yang bersih dan indah itu, setelah beberapa waktu kamipun terlibat dalam obrolan serius disertai candaan, mantan anggota legislatif 2 periode ini pun hanyut dalam obrolan bersama kami, dan berikut adalah beberapa pertanyaan yang sempat kami ajukan kepada beliau:

Apa pandangan bapak mengenai Keberadaan TNBK

Melihat sejarah awalnya pada saat Betung Kerihun hendak dilahirkan dengan nama awal Bentuang Kerihun, banyak sanggahan yang disertai bantahan mengenai nama ini karena dianggap tidak sesuai bahasa asli yang ada dikalimantan Barat, sehingga keberadaannya seiring waktu akhirnya bentuang kerihun berganti nama menjadi Betung Kerihun (1995), secara prisipil fungsi TNBK dirasakan oleh kami sangat membantu keberadaan kelangsungan hutan dan kelestariaannya didaerah kami, sebagai contoh dengan dilarangnya melakukan pembalakan liar atau illegal logging ( dalam skala besar), karena pada dasarnya sejak jaman nenek moyang kamipun sudah ada aturan demikian yang melarang umat manusia melakukan pembalak liar karena dianggap akan merusak alam, kalau alam sudah rusak maka yang akan terkena akibatnya adalah manusia itu sendiri. Pembalakan liar boleh saja dilakukan tapi dengan tujuan untuk membangun rumah, karena hal ini tidak membutuhkan banyak kayu, sedangkan untuk tujuan komersil jumlah yang diambil sangat banyak, kalau sudah begini bagaimanan kondisi anak cucu kita kelak kalau-kalau mereka hendak membangun rumah akan kemana mereka mencari kayu lagi.

Bagaima Kondisi TNBK di DAS Sibau

Pelanggaraan seringkali terjadi hal ini tidak dapat dipungkiri karena kurangnya penegakan hukum secara tegas, masing – masing mengambil alibi bahwa kurangnya sosialisasi, tetapi yang saya rasakan bahwa sosialisasi sudah sangat sering dilakukan entah sudah berapa ratus kali hal serupa dilakukan, tapi apa mau dikata, ketika kasus ini terjadi dan dibawa kehadapan aparatyang berwenang , si pelaku bukannya ditindak berdasarkan aturan perundang-undang yang berlaku malah hanya dikasih saran dan  nasehat untuk tidak melakukannya hal  serupa  dikemudian hari. Hal inilah yang tidak mendatangkan efek jera kepada si pelaku pembalakan liar. Yang saya sesalkan adalah para pelaku yang melakukan pelanggaran ini bukanlah orang asli dari daerah kami, mereka rata-rata adalah para pendatang yang mencari untung didaerah kami.

Sejauhmana manfaat keberadaan TNBK bagi masyarakat disekitar DAS Sibau?

Bagi kami banyak hal yang dirasakan manfaatnya  selama ini hanya saja kami merasakan masih kurangnya perhatian yang diberikan dibanding dengan mereka yang ada di Nanga Potan, harapan saya kedepannya TNBK dapat lebih meningkat perhatiannya kepada kami karena secara prinsip kami adalah penduduk asli disana , sedangkan mereka yang ada di Nanga Potan adalah orang-orang pendatang yang datang mencari makan ditempat kami mereka rata-rata berasal dari Bika, Jaras dan Manday,  yang menjadi ketidaksukaan kami bahwa mereka hanya menjadikan tempat kami sebagai lahan mencari makan dan penghasilan bagi mereka, tetapi setelah berhasil mereka  kembali kekampung halaman mereka dan membangun daerah mereka. Hal inilah yang membuat saya untuk mengambil keputusan bahwa mereka boleh-boleh saja tinggal di Nanga Potan tetapi mereka harus memilik KTP disitu karena dengan begitu mereka tidak dengan sesuka hati keluar masuk daerah kami. Ya adapun harapan-harapan saya kedepannya terhadap TNBK supaya dapat membimbing masyarakat kami diSibau agar mereka lebih mengerti lagi mengenai keberadaan TNBK, kemudian kegiatan-kegiatan seperti pemberdayaan masyarakat dan membuat perkebunan karet juga dapat dilakukan agar masyarakat tidak banyak melakukan aktifitasnya didalam hutan.

Bagaimana Peranan Hukum adat dalam membantu pengelolaan  TNBK

Hukum Adat terakhir tahun1996 sudah direvisi secara umum tinggal disosialisakan saja khusus untuk sibau, sedikit bercerita mengenai sejarah daerah kami yang dikenal sebagai Taman Sibau dahulu adalah tempat tinggalnya para dewa, keberadaannya yang sangat suci inilah yang dianggap harus dijaga agar tidak rusak karena akan mengakibatkan kerusakan pada alam seperti bencana alam, musibah, dan laiu-lainnya. Tanah Adat inilah yang kami titipkan pada TNBK sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai aturan main secara hukum positif (hukum Negara), kalau ada yang melanggar maka akan kami tindak secara tegas menurut hukum adat  yang ada. Prinsipnya hukum adat tidak setuju apabila kayu yang diambil dari hutan digunakan untuk tujuan komersil tetapi apabila digunakan untuk membuat rumah  itu tidak masalah karena jumlahnya pun tidak banyak.

Apa saran Bapak terhadap pengelolaan TNBK

Agar pengelolan TNBK dapat berjalan maksimal tidak ada jalan lain selain melibat masyarakat lokal yang ada untuk terlibat langsung dalam pengelolaan itu sendiri, karena kita sama-sama saling membutuhkan, TNBK dalah lembaga pemerintah yang merupakan perpanjangan tangan Negara untuk menjaga kelestarian hutan yang ada membutuhkan masyarakat sebagai  mitra dilapangan untuk dapat bergandengan tangan mencapai visi dan misi TNBK, sedangkan kami butuh TNBK untuk menjaga hutan kami supaya kelak anak cucu kamipun dapat merasakan manfaatnya. Terakhir pesan saya jangan bedakan antara daerah kami Sibau dengan Nanga Potan.

Tanpa terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 9  malam, dan kamipun berpamitan untuk pulang, tak disangka banyak pengalaman yang kami dapat dari sosok Bapak Thomba, pribadi yang bersahaja dan sederhana yang mau membangun negerinya walaupun usia sudah tidak muda lagi. Selamat berjuang  pak, dan kami berharap bisa kembali mendengar cerita-cerita bapak yang tergores dalam perjuangan bapak untuk menggapai cita-cita bapak yang mulia.

 

Biodata

Nama Lengkap Laurent Thomba.S.
Sapaan Thomba
Ttl Sibau, 15 November 1945
Pengalaman Kerja -          Asuransi Bumiputra : 1980-1984

-          Ketua DPC PDI           : 1984-1996

-          Anggota DPRD Kapuas Hulu : 1987-1992, 1992-1997

-          Pendiri Dewan Adat Dayak Kab Kapuas Hulu : 1996-2007

-          Ketua I Dewan Adat Dayak kab Kapuas Hulu : 2007 – 2012.

-          Temenggung Taman Sibau   : 2008-2013

 

Oleh : F.Yhani,YT, Ngurah





Buka Puasa Bersama Pegawai Lingkup Bidang Pengelolaan TN. Wilayah II Kedamin.

12 11 2010

Puasa adalah salah satu ritual keagamaan yang wajib di lakukan oleh pemeluk suatu keyakinan, puasa juga merupakan bukti nyata suatu ketekunan dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dilakukan dengan cara melawan rasa haus, lapar namun juga melawan sifat-sifat kedagingan, sehingga muncul suatu rasa kemenangan bagi yang melewati atau menunaikan ibadah puasanya .
Bulan Agustus tahun 2010, merupakan salah satu momen bersejarah bagi Bangsa Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan lantang Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya atas penjajahan Belanda dan Jepang, dan hingga sekarang pada tanggal 17 Agustus 2010 Bangsa Kita dapat merasakan atau mengenang kemerdekaannya melalui detik-detik Proklamsi. Namun pada  bulan Agustus 2010 ini kita juga dapat merasakan momen keagamaan yaitu Ibadah Puasa bagi umat Islam sedunia bahkan di Indonesia, sehingga semarak Kemerdekaan 17 Agustus yang sering dirasakan meriah, saat ini dirasakan sederhana meriahnya, tapi tidak mengurangi makna atau arti dari kemerdekaan itu dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
Pegawai Kantor Bidang PTN. Wilayah II saat berjumlah 39 pegawai yang terdiri dari, 20 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 19 orang Petugas Bantu Administrasi dan PAM Swakarsa yang tersebar di setiap Wilayah Kerja Bidang PTN Wilayah II.

Pada tahun-tahun sebelumnya buka puasa bersama sering dilakukan oleh Bidang PTN Wilayah II pada saat bulan Ramadhan, acara ini bertujuan untuk meningkatkan solidaritas dan membangun tali silahturahmi antar sesama pegawai Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK).  Pada tahun ini, buka bersama dilakukan di Kantor Bidang PTN Wilayah II Kedamin yang dihadiri oleh beberapa pejabat eselon III dan IV Balai Besar TNBK, dan beberapa pegawai yang tidak menjalani ibadah puasa (non muslim) yang hadir bersama dengan keluarga sehingga menambah hikmatnya acara buka puasa bersama, rangkaian acara yang dilakukan pada saat buka bersama adalah sholat berjamaah dan menikmati hidangan buka puasa.
Kegiatan seperti ini perlu menjadi suatu budaya Balai Besar TNBK yang perlu dipertahankan, guna meningkatkan  solidaritas dan ketaatan pegawai kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar tercapai maksud dan tujuan pengelolaan kawasan TNBK yang lebih baik, adil dan sejahtera. (Jim)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.